MAMUJU, SulbarTonagoes.com – Pemahaman literasi digital menjadi perhatian Kepolisian Daerah Sulawesi Barat dalam membangun karakter generasi muda.
Wakapolda Sulbar Brigjen Pol Hari Santoso mengingatkan para siswa MAN 1 Mamuju agar lebih cermat menyaring informasi serta tidak mudah menyebarkan berita yang belum terverifikasi.
Pesan tersebut disampaikan saat Wakapolda bertindak sebagai Inspektur Upacara di MAN 1 Mamuju, Senin (2/11/2026).
Dalam kesempatan itu, Wakapolda didampingi Karo SDM dan Kabidkum Polda Sulbar.
Edukasi tersebut merupakan bagian dari program Quick Wins Polisi Peduli Pendidikan yang diarahkan untuk memperkuat kedekatan Polri dengan dunia pendidikan sekaligus menanamkan kesadaran kepada pelajar tentang pentingnya menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Dalam amanatnya, Wakapolda menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital telah memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam memperoleh berbagai informasi. Namun, derasnya arus informasi juga menuntut pengguna media sosial untuk memiliki kemampuan memilah konten yang benar dan tidak menyesatkan.
“Saat ini kita bisa memperoleh informasi dengan sangat mudah melalui telepon genggam. Namun tidak semua yang kita baca, lihat dan terima itu benar. Ada informasi yang sengaja dibuat untuk menyesatkan, memprovokasi, menimbulkan kebencian bahkan memecah belah persatuan,” tutur Wakapolda.
Ia mengingatkan, penyebaran informasi palsu dapat membawa dampak serius, baik terhadap individu maupun kehidupan sosial masyarakat.
Informasi yang tidak benar berpotensi memicu kesalahpahaman, merusak reputasi seseorang, mengganggu ketertiban umum hingga menimbulkan persoalan hukum bagi pihak yang menyebarkannya.
Untuk itu, Wakapolda meminta para siswa membiasakan diri melakukan verifikasi terhadap setiap informasi yang diterima. Ada empat prinsip yang ditekankan, yakni memeriksa sumber informasi, tidak mudah terprovokasi, memanfaatkan media sosial untuk hal-hal positif, serta tidak menyebarkan informasi apabila masih diragukan kebenarannya.
“Kalian adalah generasi penerus bangsa. Jadilah generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijak dalam berpikir, bersikap dan menggunakan teknologi. Apa yang kalian tulis, unggah, dan bagikan harus bisa dipertanggungjawabkan,” pesan Wakapolda.
Selain menyampaikan pesan kepada siswa, Wakapolda juga mengajak para guru dan tenaga pendidik untuk berperan aktif dalam memberikan pendampingan kepada peserta didik saat menggunakan media sosial.
Menurutnya, penguatan pendidikan karakter dan literasi digital membutuhkan keterlibatan bersama agar generasi muda tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berintegritas, dan mampu menghadapi tantangan perkembangan teknologi.
“Gunakan jari untuk menyebarkan kebaikan, bukan untuk menimbulkan keresahan. Mari kita jaga bersama ruang digital yang sehat, aman, dan bertanggung jawab,” tutup Wakapolda.*(Rul)


