Rahmad Sukendar Kritik Keras Dugaan Kriminalisasi Pers Oleh Ditkrimsus Polda Jateng

Jakarta, toBagoes Sulbar – Aroma kriminalisasi terhadap insan pers kembali mencuat. Kali ini, sorotan tajam mengarah ke Ditkrimsus Polda Jawa Tengah setelah surat konfirmasi dan permintaan informasi publik yang dikirim awak media Global Investigasinews diduga berujung pada pemanggilan resmi dan berubah menjadi surat pengaduan.

Peristiwa kriminalisasi itu dialami Ari Wibowo, Kepala Perwakilan Jawa Tengah media online dan cetak Global Investigasinews. Padahal, surat yang dikirimkan kepada aparat penegak hukum tersebut merupakan bagian dari tugas jurnalistik untuk menjalankan prinsip cover both side dan menguji kebenaran informasi sebelum dipublikasikan.

Namun yang terjadi justru membuat kalangan pers geram. Wartawan yang seharusnya dilindungi undang-undang malah dipanggil aparat, seolah-olah melakukan tindak pidana.

Ketua Umum BPI KPNPA RI, Rahmad Sukendar, langsung melontarkan kritik keras atas dugaan kriminalisasi tersebut. Ia menilai langkah itu dapat menjadi preseden buruk dan ancaman nyata terhadap kemerdekaan pers di Indonesia.

“Ini bukan sekadar pemanggilan biasa. Kalau surat konfirmasi wartawan bisa berubah menjadi pengaduan, maka ini alarm bahaya bagi kebebasan pers. Jangan sampai aparat menggunakan kekuasaan untuk membungkam kontrol sosial,” tegas Rahmad Sukendar, Selasa (26/5/2026).

Rahmad menegaskan, surat konfirmasi adalah prosedur standar dalam dunia jurnalistik. Tujuannya untuk meminta klarifikasi, menguji fakta, dan menjaga keseimbangan berita agar informasi yang disampaikan ke publik tidak sepihak.

“Wartawan bekerja dilindungi UU Pers. Mereka mencari fakta, bukan membuat kejahatan. Kalau setiap surat konfirmasi berujung pemanggilan, maka wartawan bisa takut menjalankan tugasnya,” ujarnya.

Ia juga menyoroti potensi pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers apabila pemanggilan tersebut menyentuh wilayah internal redaksi, narasumber, maupun kerja jurnalistik yang dilindungi hak tolak.

BACA JUGA  Bhabinkamtibmas Polsek Urban Wonomulyo Amankan Natal di GMII Kebunsari

“Kalau sudah masuk ke dapur redaksi dan mencoba menggali narasumber, itu bentuk tekanan terhadap independensi pers. Ini tidak boleh dibiarkan,” katanya.

Rahmad menekankan, sengketa jurnalistik seharusnya diselesaikan melalui mekanisme Dewan Pers, hak jawab, dan hak koreksi, bukan langsung dibawa ke pendekatan pidana yang dapat memunculkan kesan kriminalisasi terhadap media.

“Jangan sedikit-sedikit memakai jalur pemanggilan. Pers bukan musuh negara. Pers adalah pilar demokrasi dan alat kontrol sosial,” tandasnya.

Ia pun mengingatkan, jika praktik semacam ini terus terjadi, maka kebebasan pers di Indonesia berada dalam ancaman serius.

“Kalau wartawan mulai takut mengirim surat konfirmasi karena khawatir dipanggil aparat, maka siapa lagi yang akan mengawasi dugaan penyimpangan? Demokrasi bisa mati perlahan ketika pers dibungkam,” pungkas Rahmad Sukendar.

Sumber Berita: Tim
Editor: Sadiman

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest news

Related news