Mamasa, toBagoes Sulbar – Sejumlah aktivis pemerhati lingkungan yang tergabung dalam Aliansi Pemuda dan Masyarakat Rantepuang–Mellangkena Padang memblokade sebuah alat berat jenis excavator PC 55 yang hendak melintas menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Salubue, Kamis (8/1/2026).
Aksi pemblokiran dilakukan di ruas jalan poros Salubue–TPA Salubue yang saat ini masih dalam tahap pekerjaan betonisasi. Para aktivis menilai perlintasan alat berat tersebut berpotensi merusak jalan yang betonisasinya belum kering secara sempurna.
Ketua Aliansi, Yohanis, menegaskan bahwa pihaknya melarang alat berat melintas karena kondisi beton masih basah dan ketebalannya hanya sekitar 10 sentimeter.
“Kami melarang alat berat melintas di jalan beton yang sementara dikerjakan. Ketebalan beton hanya 10 sentimeter dan masih basah, tapi sudah dilalui alat berat,” ujar Yohanis.
Ia juga mengungkapkan bahwa pihak Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Mamasa diduga tidak melakukan koordinasi terlebih dahulu dengan Dinas Pekerjaan Umum maupun pemerintah desa setempat sebelum melintasi jalan tersebut.
Bahkan, menurut pengakuan para pekerja di lokasi, pihak DLHK telah diperingatkan agar alat berat tidak melintas karena beton belum kering. Namun peringatan tersebut tidak diindahkan.
“Para tukang sudah memperingatkan, tapi alat tetap dipaksakan masuk dan melintas,” lanjut Yohanis.
Aliansi bersama para pekerja mencatat adanya sejumlah kerusakan kecil pada permukaan beton. Meski terlihat ringan, kerusakan tersebut dinilai dapat berdampak serius dalam jangka panjang terhadap kualitas dan daya tahan jalan.
Sebagai bentuk protes lanjutan, aliansi menyatakan akan menutup paksa TPA Salubue apabila tidak ada tindak lanjut dan klarifikasi dari pihak terkait.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak DLHK Mamasa belum memberikan klarifikasi resmi. Upaya konfirmasi masih terus dilakukan.
Sumber Berita: Riki


