Jakarta, toBagoes Sulbar – Ketua Umum BPI KPNPA RI, Rahmad Sukendar, menegaskan bahwa setiap pejabat penegak hukum wajib bersikap terbuka terhadap kritik dan masukan publik. Menurutnya, kritik bukan bentuk serangan, melainkan instrumen penting untuk membangun institusi hukum yang bersih, profesional, dan berintegritas.
Pernyataan tersebut disampaikan Rahmad menyikapi polemik pernyataan Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) Kejaksaan Agung yang dinilai telah menyampaikan informasi tidak benar atau hoaks terkait pernyataannya sebagai Ketua Umum BPI KPNPA RI.
“Pejabat penegak hukum seharusnya siap dikritik. Kritik dan masukan itu bahan evaluasi untuk membangun, bukan untuk dilawan. Jangan anti kritik,” tegas Rahmad, Rabu (31/12/2025).
Rahmad menyayangkan sikap Jamintel yang menurutnya justru memperkeruh suasana dengan menyebarkan informasi yang tidak sesuai fakta. Ia menilai tindakan tersebut bertentangan dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas yang seharusnya dijunjung tinggi oleh aparat penegak hukum.
“Jamintel justru menyampaikan hoaks atas pernyataan saya. Ini sangat disayangkan. Pejabat hukum seharusnya memberi klarifikasi jujur, bukan membangun narasi menyesatkan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Rahmad menegaskan dirinya siap diuji secara terbuka apabila dipercaya menduduki jabatan strategis di institusi penegak hukum. Ia menyatakan tidak alergi kritik dan siap menjadi objek evaluasi publik.
“Saya siap jika menjadi Jamintel dan siap dikritik oleh siapa pun. Jabatan itu amanah, bukan tameng untuk kebal kritik,” tegasnya.
Menurut Rahmad, budaya anti kritik justru menjadi salah satu penyebab lemahnya pembinaan dan pengawasan internal di lembaga penegak hukum. Jika kritik terus dipandang sebagai ancaman, maka reformasi hukum hanya akan menjadi jargon tanpa makna.
Rahmad menegaskan BPI KPNPA RI akan terus menjalankan fungsi kontrol sosial secara konsisten, termasuk mengkritisi Kejaksaan Agung, Kepolisian, dan lembaga penegak hukum lainnya demi mendorong penegakan hukum yang berkeadilan dan berpihak kepada rakyat.
“Pejabat harus kuat mental. Kalau belum siap dikritik, jangan duduk di kursi kekuasaan,” pungkasnya.
Editor: Sadiman


