Mamasa, toBagoes Sulbar – Suara masyarakat dan aktivis lingkungan kembali menggema di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Salubue, Desa Rantepuang, Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa, Kamis (21/08/2025). Dalam aksi unjuk rasa, mereka menutup akses masuk TPA sekaligus mendesak pemerintah segera menutup tempat pembuangan yang dinilai sudah tidak layak.
TPA Salubue yang masih menggunakan sistem open dumping dianggap melanggar aturan serta bertentangan dengan Instruksi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Aliansi masyarakat Desa Rantepuang, Desa Mellangkenapadang, bersama aktivis lingkungan, menegaskan bahwa keberadaan TPA tersebut menimbulkan dampak serius bagi lingkungan maupun kesehatan warga sekitar.
“TPA Salubue sudah jelas menyalahi aturan. Sesuai UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, sistem open dumping seharusnya sudah ditutup maksimal lima tahun sejak 2013. Namun sampai saat ini belum ada perhatian serius dari pemerintah,” tegas Yohanis, aktivis lingkungan, di hadapan jurnalis.
Dalam aksinya, massa menyampaikan tiga tuntutan utama:
1. Pemerintah segera menutup TPA Salubue sesuai janji Bupati.
2. Perbaikan drainase agar air hujan dari Pandodoan tidak masuk ke TPA.
3. Perbaikan akses jalan menuju TPA Salubue.
Aksi tersebut mendapat tanggapan langsung dari Cornelius SE, MM, Kepala Bidang Lingkungan dan Pengelolaan Sampah DLHK Mamasa, yang turun menemui massa. Ia mengapresiasi kepedulian warga dan aktivis, sembari mendorong audiensi resmi dengan Bupati.
“Saya sangat mengapresiasi perjuangan masyarakat dan aktivis. Namun alangkah baiknya jika tuntutan ini disampaikan langsung lewat audiensi bersama Bupati. Pemerintah sendiri telah menganggarkan penutupan dan pembenahan TPA di Salurano dalam pergeseran APBD April 2025,” ujar Cornelius.
Meski begitu, warga tetap menekankan agar persoalan TPA Salubue segera mendapat perhatian nyata, mengingat dampak buruknya terus dirasakan masyarakat sekitar. Aksi ini menjadi sorotan karena menyangkut persoalan fundamental: pengelolaan sampah, kelestarian lingkungan, dan kesehatan masyarakat Mamasa.
Sumber Berita: Riki
Editor: Sadiman


