Majene, toBagoes Sulbar – Operasi Patuh Marano 2025 yang digelar selama 14 hari oleh Satuan Lalu Lintas Polres Majene resmi berakhir pada 27 Juli lalu. Operasi ini tak hanya menekan angka pelanggaran lalu lintas, tapi juga menyoroti fakta menarik: pelanggaran helm masih mendominasi!
Kasat Lantas Polres Majene IPTU Abdul Majid dalam keterangannya, Selasa (29/7/25), menyampaikan bahwa selama operasi tercatat 248 perkara tilang, turun 25% dari tahun sebelumnya. Teguran pun ikut merosot tajam dari 168 menjadi hanya 24 perkara – penurunan lebih dari 140%!
Namun sayangnya, sepeda motor masih jadi ‘raja pelanggaran’, dengan 193 perkara. Jenis pelanggaran yang paling sering? Pengendara motor tidak menggunakan helm SNI. Sebuah kebiasaan yang seolah belum bisa ditinggalkan.
Dari sisi profesi, karyawan swasta dan pelajar/mahasiswa tercatat paling banyak melakukan pelanggaran. Bahkan, 5 kecelakaan lalu lintas terjadi selama operasi berlangsung, menelan korban jiwa sebanyak 3 orang, serta menyebabkan kerugian materiil senilai Rp 17 juta.
Barang bukti yang disita pun tak sedikit: 26 motor, 121 SIM, dan 101 STNK diamankan sebagai bukti pelanggaran.
Meski operasi telah berakhir, IPTU Abdul Majid menegaskan bahwa edukasi dan penegakan disiplin akan terus berlanjut, terutama menyasar pelajar dan pengendara muda.
“Operasi boleh selesai, tapi misi untuk membangun budaya tertib lalu lintas harus tetap hidup,” tegasnya.
Polres Majene berharap masyarakat makin sadar bahwa keselamatan bukan pilihan, tapi kewajiban di setiap perjalanan.
Sumber: Humas Polres Majene
Editor: Sadiman


