spot_img

Masyarakat Desa Tubo dan Salatambung Tolak Rencana Tambang Pasir di Sungai Tubo

TOBAGOES SULBAR / MAJENE, Ratusan warga dari Desa Tubo dan Salatambung, Kecamatan Tubo Sendana /ulumanda , Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, menggelar aksi unjuk rasa di muara Sungai Tubo, Jumat (16/mei/2025). Aksi ini merupakan bentuk penolakan keras terhadap rencana aktivitas pertambangan pasir oleh perusahaan PT ba’ba lembang tuho .

Massa aksi Desa Tubo menilai bahwa kehadiran tambang tersebut berpotensi besar merusak lingkungan, terutama ekosistemhttps://www.sulbar.tobagoes.com/?s=ekosistem pesisir dan wilayah tangkap nelayan tradisional yang menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.

Salah satu tokoh masyarakat dan pendamping hukum warga Desa Tubo, Aco Nur Samsi, S.H., menyebut bahwa pemasangan prasasti atau pelang oleh pihak perusahaan di lokasi rencana tambang telah membuat warga panik, terutama mereka yang berada di wilayah terdampak langsung.

“Ini bukan sekadar proyek normalisasi seperti yang diisukan. Ini adalah proyek tambang besar yang akan menggunakan kapal besar untuk menyedot pasir dari dasar sungai. Jika ini dibiarkan, maka kampung halaman kami akan rusak. Kami tidak akan tinggal diam,” tegasnya dalam orasi di tengah aksi.

Aksi unjuk rasa berlanjut di atas Jembatan Sungai Tubo, di mana warga menyampaikan empat tuntutan utama

1. Menolak seluruh aktivitas pertambangan PT Baqba lembang tuho di Sungai Tubo.

2. Mendesak pemerintah Kabupaten Majene dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat agar tidak memproses pengajuan Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP).

3. Mendesak pemerintah mencabut alokasi ruang yang menetapkan Sungai Tubo sebagai kawasan peruntukan pertambangan.

4. Menuntut pengakuan dan perlindungan terhadap wilayah tangkap nelayan di muara dan pesisir Desa Tubo dan Salatambung.

Warga menegaskan bahwa mereka akan terus melakukan perlawanan apabila aspirasi ini tidak diindahkan oleh pemerintah maupun pihak perusahaan.

BACA JUGA  Kapolres Polman Pimpin Langsung Pengamanan Eksekusi Lahan di Katumbangan

“Kami akan mempertahankan tanah leluhur kami. Jika perlu, kami akan melakukan aksi yang lebih besar. Ini bukan hanya tentang hari ini, tapi tentang masa depan anak cucu kami,” pungkas Acok Nur Samsi.

Aksi berjalan damai dan tertib, dengan pengawalan dari aparat keamanan. Warga berharap suara mereka dapat menjadi pertimbangan serius bagi semua pihak dalam menjaga kelestarian lingkungan dan hak hidup masyarakat pesisir.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest news

Related news